
Kisah Bersejarah Dibalik Julukan “Masjid Awan” Madinah
Ada salah satu masjid tertua di Madinah yang menyimpan kisah bersejarah hingga mendapat julukan “Masjid Awan”. Simak Sejarahnya di sini!

Pertama kali mendengar julukan “Masjid Awan”, Sahabat pasti mengira bahwa masjid ini berada di atas awan atau di dataran yang sangat tinggi. Padahal, dibalik julukan ini, tersimpan satu kisah bersejarah yang sangat istimewa di masa kenabian.
Masjid Awan merupakan julukan untuk Masjid Al-Ghamamah. Salah satu masjid tertua di Madinah yang berada sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari gate 310 Masjid Nabawi, sehingga mudah dijangkau oleh para jemaah yang ingin berziarah dan mengenal lebih dekat sejarah Islam.
Sejarah Masjid Al-Ghamamah
Sebelum dibangun masjid, lokasinya ini merupakan sebuah lapangan terbuka. Di tempat inilah Rasulullah bersama para sahabat melaksanakan shalat Istisqa, yakni shalat yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid, yang menyatakan:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَاسْتَسْقَى، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Artinya: “Nabi keluar menuju lapangan, kemudian memohon hujan. Beliau menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, dan shalat dua rakaat.” (HR. al-Bukhari no. 1011, dan Muslim no. 894)
Shalat Istisqa tersebut dilaksanakan saat Madinah mengalami kekeringan dan musim kemarau berkepanjangan, yang menyebabkan pasokan air sangat menipis. Dalam riwayat juga disebutkan bahwa setelah Rasulullah memanjatkan doa kepada Allah SWT, sekumpulan awan mulai berkumpul di langit. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras, sehingga masyarakat dapat melewati masa kekeringan yang sedang mereka alami.
Baca Juga : Sejarah Bir Ali, Tempat Miqot Favorit Para Jemaah Umroh
Jejak pembangunan dari masa ke masa
Untuk menghormati tradisi dan menjaga jejak sejarah kebiasaan nabi dalam melakukan shalat ied dan shalat istisqa di tanah lapang tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz kemudian memprakarsai pembangunan masjid pertama di lokasi ini.
Masjid Al-Ghamamah juga sempat mengalami renovasi berkali-kali. Mulai dari masa Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan al-Shalihi pada tahun 1340 M, diperluas dan dibangun kembali oleh Syarif Saifuddin Inal al-Ala’i pada tahun 1622 dan Sultan Abd-ul-Mejid I pada tahun 1859 pada masa Kesultanan Utsmaniyah, hingga masa pemerintahan Sultan Abdul Majeed al-Uthmani.
Namun akhirnya, Raja Fahd bin Abdul Aziz al-Saud melakukan renovasi besar-besaran dengan tetap melestarikan sebagian besar gaya arsitektur ottoman termasuk bagian menara.
Arsitektur bersejarah peninggalan Era Ottoman
Sebagian besar bangunan Masjid Al-Ghamamah yang berdiri saat ini menggunakan arsitektur khas pada masa Kesultanan Ottoman. Masjid ini memiliki ciri khas berupa enam kubah berwarna putih yang berdiri di atas bangunan berbahan batu yang kokoh dan elegan.
Saat memasuki bagian dalam masjid, Sahabat akan disambut dengan nuansa interior berwarna krem yang menenangkan. Pintu masuk yang artistik berukuran sekitar 26 meter dengan lebar 4 meter menambah kesan klasik sekaligus megah pada bangunan bersejarah ini.
Luas masjid ini tidak sebesar Masjid Nabawi, ruang shalatnya hanya berkisar 30 meter dengan lebar 15 meter cukup luas bagi jemaah untuk beribadah. Namun, Masjid Al-Ghamamah ini tetap menjadi salah satu destinasi favorit jemaah yang sedang berada di Madinah.

Sahabat tertarik mengunjungi Masjid Al-Ghamamah saat umroh nanti?
Tenang aja, umroh bersama LCU, Sahabat disediakan free time yang bisa dimanfaatkan untuk mengunjungi berbagai lokasi bersejarah di luar dari lokasi city tour bersama LCU.
Yuk, segera konsultasikan umroh impianmu bersama Low Cost Umroh!



