
Ternyata Kiswah Ka’bah Tidak Selalu Berwarna Hitam!
Kiswah Ka’bah ternyata tak selalu hitam, ada sejarah perubahan warna Kiswah Ka’bah dari masa ke masa dan alasan warna hitam dipilih saat ini.

Bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia, Ka’bah tentu menjadi simbol suci yang begitu melekat di hati dan ingatan. Bangunan berbentuk kubus yang berdiri megah di tengah Masjidil Haram ini selalu memancarkan aura sakral, terlebih dengan balutan kain hitam elegan yang dihiasi sulaman benang emas dan perak berkilauan. Kain penutup Ka’bah inilah yang dikenal dengan nama Kiswah.
Warna Kiswah yang kita lihat saat ini memang memberikan kesan megah, anggun, sekaligus penuh wibawa. Namun, tahukah sahabat? Ternyata Kiswah Ka’bah tidak selalu berwarna hitam seperti sekarang, lho.
Seiring berjalannya waktu, Kiswah Ka’bah mengalami banyak perubahan. Bukan hanya dari segi warna, tetapi juga bahan, ornamen, hingga pihak yang bertanggung jawab atas pembuatannya. Perjalanan sejarah Kiswah ini menyimpan banyak fakta menarik yang sayang untuk dilewatkan.
Warna Kiswah Ka’bah dari Masa ke Masa

Dilansir dari NU Online, terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai siapa sosok pertama yang menutupi Ka’bah dengan Kiswah. Namun berdasarkan catatan sejarah, tokoh yang paling sering disebut sebagai pelopor tradisi ini adalah Raja Dinasti Himyariyah Yaman, Abu Karb As’ad.
Dikisahkan, As’ad berniat menutupi Ka’bah setelah mendapatkan mimpi ketika melakukan perjalanan menuju Madinah. Pada awalnya, Ka’bah ditutupi menggunakan kulit hewan dan kain kasar. Namun karena dikhawatirkan material tersebut terlalu berat dan membebani bangunan Ka’bah, penutupnya kemudian diganti dengan kain yang dijahit di Yaman.
Sejak saat itu, banyak orang berlomba-lomba memberikan kain terbaik sebagai penutup Ka’bah. Memasang Kiswah dianggap sebagai kehormatan yang sangat besar.
Sahabat, tahukah bahwa Kiswah Ka’bah pernah memiliki berbagai warna?
Orang yang disebut pertama kali menutupi Ka’bah dengan kain berbahan sutra adalah Khalid bin Ja’far bin Kilab. Pada masa Muhammad, Ka’bah pernah diselimuti dengan kain qabhati, yaitu kain putih yang dibuat di Mesir. Sayangnya, kain tersebut sempat terbakar akibat dupa yang digunakan untuk mengharumkannya.
Setelah itu, Ka’bah kembali diselimuti kain Yaman bergaris putih dan merah yang dikenal dengan nama burud.
Pada masa Uthman ibn Affan, Kiswah Ka’bah bahkan pernah dipasang secara bertumpuk. Seiring berkembangnya era kekhalifahan Islam, warna Kiswah juga ikut berubah mengikuti simbol dan identitas politik dinasti yang berkuasa.
Tak hanya hitam, Kiswah Ka’bah pernah berwarna:
- Merah
- Hijau
- Kuning
- Putih
Hal ini menunjukkan bahwa warna Kiswah ternyata sangat dinamis dari masa ke masa.
Baca Juga : Ada Makna di Balik 4 Sudut Ka’bah Yang Jarang Diketahui
Alasan Kiswah Ka’bah Bewarna Hitam

Perubahan Kiswah Ka’bah menjadi warna hitam terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Nasir Lidinillah. Setelah sempat menggunakan warna hijau tua, akhirnya diputuskan bahwa warna hitam menjadi pilihan utama dan bertahan hingga sekarang.
Tentu keputusan ini bukan tanpa alasan.
Secara praktis, warna hitam dinilai jauh lebih awet dibanding warna-warna terang seperti putih. Kain berwarna terang lebih mudah terlihat kotor, kusam, dan cepat rusak akibat debu, cuaca panas, serta sentuhan jutaan jemaah setiap tahunnya.
Selain faktor ketahanan, warna hitam juga memberikan nilai estetika yang sangat kuat. Warna gelap menciptakan kontras yang indah dengan sulaman ayat-ayat suci Al-Qur’an dari benang emas dan perak, sehingga tampilannya terlihat semakin megah dan memukau.
Sahabat, Kiswah Ka’bah juga dikenal sebagai salah satu kain termahal di dunia.
Dilansir dari berbagai sumber, pemerintah Arab Saudi mengalokasikan dana sekitar 20–25 juta Riyal, atau lebih dari Rp80 miliar, untuk membuat satu set Kiswah baru setiap tahunnya.
Biaya fantastis ini mencakup:
- Material sutra premium berkualitas tinggi
- Sulaman benang emas dan perak asli
- Proses produksi yang sangat detail
- Keterlibatan sekitar 200–250 pengrajin ahli
Melihat proses pembuatannya yang begitu rumit, tidak heran jika nilai Kiswah sangat tinggi dan sebanding dengan kemegahan yang dihasilkan.
Meski begitu, kemewahan Kiswah bukan hanya soal harga. Nilai spiritual dan sejarah yang terkandung di dalamnya jauh lebih berharga bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Membayangkan keindahan Kiswah Ka’bah dengan sulaman emasnya mungkin sudah membuat hati bergetar. Namun tentu saja, semua itu tidak akan sebanding dengan pengalaman melihatnya secara langsung.
Merasakan hangatnya udara Makkah, memandang Ka’bah dari dekat, hingga memanjatkan doa di depan Baitullah adalah pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Itulah impian yang tersimpan di hati banyak umat Muslim.

Apakah sahabat juga ingin merasakan momen istimewa berdoa sambil menyentuh Kiswah Ka’bah?
Sahabat bisa mulai merencanakan perjalanan ibadah bersama LCU. Dengan harga yang terjangkau, sahabat bisa menikmati fasilitas all-in mulai dari tiket pesawat pulang-pergi yang confirmed, perlengkapan eksklusif, hingga pendampingan penuh sejak manasik sampai tiba di Tanah Suci bersama tim profesional yang siap mendampingi setiap langkah ibadah sahabat.
Yuk konsultasikan ibadah umroh sahabat bersama Low Cost Umroh, umroh hemat pasti berangkat!
