
Kenapa Sholat Tarawih Di Masjidil Haram Sampai 2 Jam?
Kenapa imam tarawih di Masjidil Haram bisa berganti? Ternyata ada sistem estafet 2 imam dengan 10 rakaat tarawih & witir, ini penjelasannya.

Sholat tarawih di Tanah Suci sering menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan pelaksanaannya di banyak masjid pada umumnya. Salah satu hal yang kerap membuat jamaah penasaran adalah ketika imam yang memimpin sholat tiba-tiba berganti di tengah rangkaian tarawih. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa tidak biasa.
Padahal, pergantian imam tersebut merupakan bagian dari pengaturan ibadah yang memang telah lama diterapkan di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Sistem ini dibuat untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tarawih yang memiliki durasi cukup panjang serta bacaan Al-Qur’an yang lebih banyak. Melalui pengaturan tersebut, sholat tarawih di Tanah Suci tetap dapat berlangsung dengan tertib, khusyuk, dan terjaga kualitas bacaannya sepanjang bulan Ramadan.
Kenapa Tarawih di Masjidil Haram Dipimpin Dua Imam?
Banyak jamaah yang pertama kali menjalankan sholat tarawih di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi sering merasa heran ketika melihat imam yang memimpin sholat tiba-tiba berganti di tengah rangkaian tarawih. Hal ini tentu terasa berbeda dengan kebiasaan di banyak masjid di Indonesia yang biasanya dipimpin oleh satu imam dari awal hingga akhir.
Namun, pergantian imam tersebut sebenarnya merupakan bagian dari sistem yang sudah lama diterapkan di dua masjid suci tersebut. Pola ini sering disebut sebagai sistem estafet imam, yaitu pembagian tugas memimpin sholat antara dua imam dalam satu rangkaian tarawih.
Dalam praktiknya, enam rakaat pertama tarawih biasanya dipimpin oleh imam pertama, kemudian dilanjutkan oleh imam kedua yang memimpin empat rakaat berikutnya sekaligus sholat witir. Pergantian ini dilakukan secara teratur sehingga jamaah tetap dapat mengikuti sholat dengan khusyuk tanpa gangguan.
Salah satu alasan diterapkannya sistem ini adalah karena bacaan Al-Qur’an dalam sholat tarawih di Tanah Suci cenderung panjang. Dalam satu rangkaian tarawih, bacaan yang dilantunkan dapat mencapai sekitar satu juz Al-Qur’an.
Akibatnya, dua rakaat sholat tarawih saja bisa berlangsung sekitar 18 menit, dan keseluruhan rangkaian sholat bisa memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Dengan durasi yang cukup panjang tersebut, pergantian imam membantu menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an sekaligus menjaga stamina para imam yang memimpin ibadah.
Baca Juga : Gini Caranya Biar Dapat Takjil Gratis di Masjidil Haram
Format Tarawih di Masjidil Haram Selama Ramadhan
Dilansir dari Himpuh, Pemerintah Arab Saudi melalui General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques memastikan bahwa pelaksanaan sholat tarawih selama Ramadan 1447 H (2026 M) di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap mengikuti format yang telah lama diterapkan.
Setiap malam selama Ramadan, jamaah akan melaksanakan 10 rakaat sholat tarawih, kemudian dilanjutkan dengan 3 rakaat sholat witir sebagai penutup. Dengan susunan tersebut, rangkaian sholat terdiri dari lima kali salam (tasleem) sebelum akhirnya ditutup dengan witir.
Format ini dipertahankan karena dianggap selaras dengan tradisi ibadah yang telah berlangsung lama di dua masjid suci tersebut. Selain menjaga kesinambungan praktik ibadah, format ini juga membantu menciptakan keseragaman di tengah jutaan jamaah yang datang dari berbagai negara.
Pelaksanaan sholat tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga memiliki jangkauan yang sangat luas. Rangkaian ibadah tersebut biasanya disiarkan secara global, sehingga umat Muslim di berbagai belahan dunia tetap dapat menyaksikan dan mengikuti suasana ibadah dari Tanah Suci.
Menjelang awal Ramadan, pihak pengelola biasanya akan mengumumkan jadwal sholat serta daftar imam yang akan memimpin tarawih sepanjang bulan suci.
Berdasarkan perhitungan astronomi, Ramadan 2026 di Arab Saudi diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung hasil rukyah hilal. Bulan suci ini diperkirakan berlangsung selama 30 hari, dengan Idul Fitri diperkirakan jatuh sekitar 19–21 Maret 2026.
Selama periode tersebut, durasi puasa di Arab Saudi diperkirakan berkisar 12 hingga 13 jam. Kondisi cuaca juga relatif lebih sejuk karena berada pada masa peralihan dari akhir musim dingin menuju awal musim semi.

Bagi sahabat yang merindukan suasana shalat tarawih langsung di Tanah Suci, kesempatan itu sebenarnya bisa diwujudkan mulai dari sekarang. Bersama Low Cost Umroh, sahabat bisa berangkat umroh dengan biaya mulai dari 23 juta rupiah tanpa mengurangi kenyamanan ibadah.
Program ini dirancang agar lebih hemat namun tetap memberikan fasilitas penting seperti hotel yang nyaman, pembimbing ibadah berpengalaman, serta pelayanan yang membantu jamaah beribadah dengan tenang dan khusyuk. Jadi, jika sahabat ingin merasakan sendiri keistimewaan tarawih di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, sekarang saatnya merencanakan perjalanan umroh bersama Low Cost Umroh.
Yuk, cari tahu jadwal keberangkatan terdekat dan amankan kursi sahabat sebelum kuotanya penuh!



